Oleh: KH. Mudrik Qori
Istilah “raja kecil” untuk kiai pimpinan pesantren mengandung unsur kebenaran, tetapi juga berpotensi menjadi stereotip yang tidak adil apabila digeneralisasi.
Mengapa muncul istilah itu?
Karena banyak pesantren dibangun oleh seorang kiai, dibesarkan oleh visi seorang kiai, dibiayai melalui jaringan kepercayaan kepada seorang kiai, dan bertahan karena kharisma seorang kiai. Akibatnya, otoritas kiai sering kali sangat besar, bahkan dapat melampaui otoritas seorang rektor universitas atau bupati sekalipun.
Fenomena ini sesungguhnya telah lama diamati dalam studi pesantren. Zamakhsyari Dhofier (2011) menyebut kiai sebagai pusat kehidupan pesantren yang tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pemimpin moral, sosial, dan organisatoris yang menentukan arah perkembangan lembaga.
Dalam perspektif sosiologi, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui konsep charismatic authority yang diperkenalkan oleh Max Weber (1978). Menurut Weber, otoritas karismatik lahir bukan dari jabatan formal, melainkan dari kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pribadi seorang pemimpin. Karena itu, banyak pesantren tetap bertahan dan berkembang meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya, sebab fondasi utamanya adalah kepercayaan kepada figur kiai.
Sisi Positif “Raja Kecil”
Pertama, keputusan cepat
Tidak terjebak dalam birokrasi yang panjang.
Kepemimpinan yang terpusat memungkinkan pesantren bergerak lebih lincah dibandingkan organisasi yang terlalu birokratis. Dalam banyak kasus, keputusan strategis dapat segera diambil tanpa harus melalui prosedur administrasi yang berbelit. Kecepatan ini sering menjadi keunggulan pesantren dalam merespons perubahan sosial dan kebutuhan masyarakat.
Kedua, konsisten dengan visi
Pesantren memiliki arah yang jelas karena berada dalam satu komando.
Keberhasilan sejumlah pesantren besar di Indonesia menunjukkan pentingnya kesinambungan visi kepemimpinan. Ketika arah lembaga tidak terfragmentasi oleh berbagai kepentingan, pengembangan pendidikan dapat berjalan lebih konsisten dan berkelanjutan.
Ketiga, kharisma pemersatu
Ribuan santri, guru, alumni, dan wali santri dapat bergerak karena kepercayaan kepada kiai.
Francis Fukuyama (1995) menjelaskan bahwa trust atau kepercayaan merupakan modal sosial yang sangat menentukan keberhasilan suatu komunitas. Dalam konteks pesantren, modal sosial tersebut sering kali terpusat pada figur kiai. Kepercayaan itulah yang memungkinkan terbentuknya solidaritas sosial yang kuat antara santri, alumni, dan masyarakat.
Keempat, berani mengambil risiko
Banyak pesantren besar lahir dari keberanian pribadi kiai, bukan dari hasil rapat.
Sejarah perkembangan pesantren modern menunjukkan bahwa berbagai inovasi pendidikan sering lahir dari keberanian pemimpinnya dalam mengambil keputusan yang pada awalnya dianggap tidak lazim. Banyak perubahan besar justru dimulai dari keyakinan seorang kiai terhadap visi yang diyakininya.
Kelima, menjadi simbol moral
Kehidupan kiai sering menjadi teladan langsung bagi masyarakat.
Dalam tradisi Islam, keteladanan merupakan instrumen pendidikan yang paling efektif. Apa yang dilakukan seorang pemimpin sering kali lebih berpengaruh daripada apa yang dikatakannya. Karena itu, keberadaan kiai bukan hanya sebagai pengajar ilmu, tetapi juga sebagai simbol moral bagi komunitasnya.
Sisi Negatif “Raja Kecil”
Namun, setiap bentuk kekuasaan selalu mengandung risiko.
Lord Acton (1907) mengingatkan bahwa “power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Meskipun tidak dapat diterapkan secara mutlak kepada semua pemimpin, peringatan tersebut tetap relevan sebagai refleksi bahwa kekuasaan selalu membutuhkan kontrol dan koreksi.
Pertama, sulit menerima kritik
Karena terlalu lama menjadi pihak yang didengar, bukan mendengar.
Semakin lama seseorang berada di posisi puncak, semakin besar kemungkinan ia kehilangan ruang kritik yang jujur. Orang-orang di sekitarnya sering memilih diam karena hormat, sungkan, atau takut berbeda pendapat.
Kedua, merasa paling benar
Pengalaman panjang kadang berubah menjadi keyakinan bahwa pendapatnya selalu tepat.
Pengalaman memang melahirkan kebijaksanaan. Namun, tanpa refleksi diri, pengalaman dapat berubah menjadi keyakinan bahwa tidak ada lagi yang perlu dipelajari.
Ketiga, kultus individu
Lembaga menjadi bergantung pada figur, bukan pada sistem.
Ketika seluruh legitimasi organisasi hanya bertumpu pada satu orang, keberlanjutan lembaga menjadi rentan. Organisasi yang sehat seharusnya membangun sistem yang mampu bertahan melampaui figur pendirinya.
Keempat, kurang kaderisasi
Semua keputusan kembali kepada kiai sehingga generasi berikutnya tidak terlatih.
Robert Michels (1915) menyebut kecenderungan ini sebagai iron law of oligarchy, yaitu situasi ketika organisasi cenderung terpusat pada segelintir elite sehingga proses regenerasi berjalan kurang optimal.
Kelima, sensitif terhadap pengakuan
Ingin dihormati, disebut, diundang, atau diapresiasi.
Godaan ini tidak hanya dialami oleh kiai, tetapi juga oleh hampir semua pemimpin. Ketika penghormatan menjadi kebutuhan psikologis, orientasi pelayanan dapat bergeser menjadi orientasi pencitraan.
Keenam, kompetisi status
Kadang terjadi perbandingan diam-diam mengenai jumlah santri, luas tanah, tamu pejabat, cabang, atau gedung.
Padahal, ukuran keberhasilan pesantren tidak selalu identik dengan kemegahan fisik. Kualitas pendidikan, integritas moral, dan kontribusi sosial jauh lebih penting dibandingkan simbol-simbol prestise.
Yang Perlu Diwaspadai
Menurut saya, bahaya terbesar bukanlah kekuasaan.
Bahaya terbesar adalah kesepian intelektual.
Semakin tinggi posisi seorang kiai, semakin sedikit orang yang berani berkata:
“Kiai, saya kira pendapat itu perlu dipertimbangkan kembali.”
Ketika semua orang hanya mengangguk, seorang pemimpin kehilangan cermin.
Irving Janis (1982) menyebut fenomena ini sebagai groupthink, yaitu keadaan ketika sebuah kelompok kehilangan kemampuan berpikir kritis karena terlalu kuatnya dorongan untuk mempertahankan kesepakatan. Dalam situasi seperti itu, kesalahan menjadi sulit dikenali karena tidak ada lagi suara yang berani mengoreksi.
Kesepian intelektual adalah kondisi ketika seorang pemimpin dikelilingi penghormatan, tetapi kehilangan kritik. Ia memiliki pengikut, tetapi tidak lagi memiliki sahabat yang berani mengatakan kebenaran. Padahal, dalam tradisi Islam, nasihat dan koreksi merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang sehat.
Yang Patut Diteladani
Dari kiai-kiai besar yang dikenang sejarah, biasanya ada tiga ciri.
Pertama, tawadhu’ meskipun berpengaruh.
Kedua, mau mendengar meskipun berilmu.
Ketiga, mau mengalah meskipun mampu menang.
Lihat figur seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, atau KH Zainuddin Abdul Madjid. Yang dikenang bukan hanya pengaruhnya, tetapi juga kerendahan hatinya.
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din mengingatkan bahwa salah satu penyakit ilmu adalah ujub atau kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan untuk menyadari keterbatasannya sendiri (Al-Ghazali, 2010). Karena itu, kerendahan hati bukan sekadar akhlak personal, melainkan syarat penting bagi keberlanjutan kepemimpinan.
Seharusnya Bagaimana?
Pertama, kiai memang harus memimpin seperti raja dalam tanggung jawab, tetapi tidak seperti raja dalam kemuliaan.
Kedua, memimpin dengan kewibawaan, bukan keangkuhan.
Ketiga, memiliki otoritas, tetapi tetap membuka ruang musyawarah.
Keempat, dihormati karena akhlaknya, bukan karena jabatannya.
Ada ungkapan yang menurut saya tepat:
“Pesantren besar tidak lahir karena kiai yang selalu merasa benar, tetapi karena kiai yang selalu mau belajar.”
Dan ujian terbesar seorang kiai sering kali bukan saat memulai pesantren dari nol, melainkan ketika pesantrennya sudah besar, namanya sudah masyhur, dan semua orang memujinya. Pada titik itulah tawadhu’ menjadi lebih sulit daripada membangun gedung.
Seseorang pernah berkata dengan nada kesal:
“Kiai, memangnya siapa?”
Lalu ia sendiri menjawab:
“Bukan Tuhan. Bukan Nabi. Jangan seenaknya mengaku wali. Profesor dan doktor, apakah itu syarat masuk surga?”
Bukankah gelar kadang justru meninabobokan seseorang sehingga merasa lebih tinggi daripada yang lain?
Merasa lebih hebat daripada Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Merasa setengah nabi.
Atau merasa lebih pintar daripada Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun.
Kritik tersebut mungkin terdengar keras, tetapi mengandung pesan yang penting. Tidak ada jabatan, gelar, kharisma, atau popularitas yang dapat menggantikan kerendahan hati. Sebab, sebagaimana dikatakan Ibnu Khaldun (2005), kemunduran suatu peradaban sering dimulai ketika para pemimpinnya lebih sibuk mempertahankan kehormatan pribadi daripada memperkuat institusi yang dipimpinnya.
Pada akhirnya, kebesaran seorang kiai tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, luasnya pesantren, atau panjangnya gelar akademik yang disandang. Kebesaran seorang kiai ditentukan oleh kemampuannya menjaga hati ketika penghormatan datang dari segala arah.
Karena pesantren yang besar bukan hanya melahirkan santri yang cerdas, tetapi juga lahir dari pemimpin yang terus merasa menjadi murid.
Dalam konteks yang lebih luas, refleksi ini sesungguhnya tidak hanya ditujukan kepada para kiai. Setiap pemimpin, apa pun bidang pengabdiannya—di pesantren, kampus, pemerintahan, organisasi, dunia usaha, maupun keluarga—akan menghadapi ujian yang sama.
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar godaan untuk merasa tidak membutuhkan nasihat. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa yang menghancurkan seorang pemimpin sering kali bukan kekurangan kemampuan, melainkan hilangnya kerendahan hati.
Karena itu, ukuran kebesaran seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak orang yang memujinya, melainkan seberapa besar kesediaannya untuk tetap belajar ketika dirinya dianggap telah mengetahui segalanya. Bukan pula seberapa luas pengaruh yang dimilikinya, melainkan seberapa terbuka hatinya menerima kritik yang jujur.
Pada akhirnya, kepemimpinan yang bertahan lama bukanlah kepemimpinan yang dibangun di atas kultus individu, melainkan kepemimpinan yang melahirkan tradisi ilmu, keteladanan, dan kader-kader yang mampu melanjutkan perjuangan.
Di situlah makna terdalam dari tawadhu’. Bahwa semakin tinggi seseorang di mata manusia, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Allah SWT. Sebab, sebagaimana pepatah para ulama, padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Dan pemimpin yang semakin besar seharusnya semakin rendah hati.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah
1 Muharram 1448 H / 16 Juni 2026
